Foto: BBC

Seruu.com – Kami petikkan sebuah cerita perjalanan yang sangat menantang yang ditulis Himanshu Khagta. 

“Kami berlima berjejalan ke dalam sebuah mobil, terpikat untuk melintasi salah satu jalanan yang paling mengagumkan dan paling berbahaya di India” – di musim dingin.

Lembah Pangi melalui jalan Kishtwar melewati dua daerah terpencil, Jammu dan Kashmir. Jalan inilah yang menghubungkan lembah penuh mitos Pangi – yang tersembunyi di antara celah Pir Panjal dan celah Zanskar di Himalaya Barat – dengan dunia luar ketika jalur yang biasa (lewat Saach Pass) terblokir karena longsoran salju.

Di bulan November, cuaca biasanya berubah-ubah. Hujan salju dapat menyebabkan lembah Pangi terisolasi sebulan penuh. Namun kami bertekad untuk melanjutkan perjalanan.

Dari salah satu jalan utama India di utara kota perdagangan yang membentang bernama Chandigarh, jalan kemudian menyempit dan kami akhirnya memulai pendakian selama dua hari melewati bekas jalur gerombolan keledai.

Kini, jalur itu hanya tersisa satu jalur tanah, rute itu telah diledakkan hingga ke sisi gunung beberapa tahun lalu.

Sejarah lokal mengatakan bahwa masyarakat Chamba, yang melarikan diri dari pendudukan Mughal, berdiam di lembah Pangi yang tersembunyi.

Keluarga bangsawan akan mengirimkan para perempuan dan anak-anak ke Pangi untuk hidup dengan damai dan penuh kerahasiaan.

Ketika kemudian lembah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Chamba pada abad ke 16, para pejabat yang ditempatkan di sana diberikan tunjangan pemakaman, karena mereka tidak pernah diharapkan untuk kembali.

Menurut legenda lainnya, Raja Chamba mengirimkan para penjahat ke lembah itu untuk menjalani hukuman seumur hidup.

Pangi lewat jalan Kishtwar berada tepat di pinggiran gunung, dan sering kali lebarnya hanya cukup untuk dilewati satu mobil pada satu waktu.

Meskipun demikian, pengemudi bis dan truk berani juga melintasi jalan itu. Kalau dua mobil yang saling berlawanan tiba-tiba berpapasan, salah satu pengemudi harus dengan sangat hati-hati memundurkan mobilnya, sampai beberapa meter jauhnya hingga tiba pada jalan yang cukup lebar dilewati.

Sepanjang jalan, tebing-tebing tegak berdiri hingga puncak gunung, dan lalu menghunjam ratusan meter ke bawah, menuju aliran sungai Chenab. Jalanannya begitu berbatu dan curam, ada jalan sepanjang 30 km yang membuat kami menghabiskan waktu empat jam untuk melintas.

Sepanjang jalan, kami bertemu dengan penduduk asli yang terbiasa dengan jalanan yang berbahaya dan lanskap yang mengelilingi mereka.

Pangwal, keturunan penduduk asli, memiliki lahan pertanian kecil di sepanjang jalan. Dan di tempat yang lebih tinggi, orang-orang Bhot – yang berbicara bahasa Tibet dan kebanyakan hidup sebagai penggiring ternak – bertahan hidup dalam cuaca ekstrem dengan mengawetkan daging, menyimpan gandum dan membuat sejenis minuman keras lokal yang dikenal dengan patru atau rakh.

Musim dingin, saat seluruh lembah diselubungi salju, merupakan saat yang paling berat bagi penduduk asli. Membutuhkan waktu dua hari perjalanan untuk mencapai Chamba, dan selama keadaan darurat medis, pemerintah mengatur layanan helikopter untuk mereka.

Dalam perjalanan pulang menuruni lembah, kami menghadapi keadaan berat ini secara langsung. Awan-awan datang ke lembah, menyelimuti kami dalam kabut tebal dan gerimis ringan membuat jalan menjadi becek.

Dan saat kami turun dari ketinggian, sedang ada salju, menyebabkan jalanan bertambah licin dan berbahaya. Jalan membentang sepanjang 52 km ke Gulabgarh – daerah aman yang berada dekat sungai – ditempuh selama delapan jam.

Jika saja kami tidak pulang saat itu, mungkin kami bisa punya waktu lebih lama di gunung mempesona yang kami pertaruhkan itu. Dipetik dari BBC (mw)

KOMENTAR SERUU