Kesenian 'Jegog' (istimewa)

Tabanan, Seruu.com - Desa wisata Pinge, Kabupaten Tabanan, mengadopsi seni tabuhan "Jegog" sebagai kesenian tradisional masyarakat Kabupaten Jembrana.

"Jegog memang identik dengan Jembrana, tapi kami punya semangat untuk melestarikan seni tradisional Bali itu sehingga Jegog kami adopsi," kata I Wayan Wendra, seniman tabuh asal Desa Pinge, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Rabu.

Menurut dia, seni tabuh yang menggunakan alat musik dari bambu itu sudah lama dipelajari masyarakat desa itu. Apalagi di Desa Pinge sudah ada tari Leko yang diiringi alat musik dari bambu mirip dengan Jegog. Sayangnya, tari Leko itu kini hampir punah.

Bahkan Wendra menggelar Jegog di halaman rumahnya di Desa Pinge, Jumat (29/3) lalu atau dua hari setelah Hari Raya Galungan. "Itu penampilan seka (sanggar) Jegog perdana kami di desa ini," katanya.

Dalam pergelaran itu, dia mengundang beberapa penabuh Jegog dari Kabupaten Jembrana yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabanan itu.

Pergelaran itu menyita perhatian sejumlah wisatawan asal Prancis yang menginap di rumah-rumah penduduk di Desa Pinge. "Bahan untuk membuat alat musik ini kami dapatkan dari Tabanan, tapu pembuatnya memang orang Jembrana," kata Wendra seraya menyebutkan bahwa pembuatan seperangkat alat musik Jegog itu membutuhkan waktu tiga bulan, seperti gambang, genggong tamplak, dan genggong tiup.

Desa Pinge baru satu tahun diresmikan sebagai desa wisata. Selain udaranya yang sejuk, kelestarian alam desa yang berada di lereng Gunung Batukaru itu tetap terjaga.

Masyarakat yang mendiami desa yang terletak sekitar 28 kilometer arah barat laut Kota Denpasar itu juga melestarikan seni dan budaya serta adat-istiadat.[ant/nty]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
Peraturan Komentar