Ilustrasi (Istimewa)

Seruu.com - Ingin meningkatkan kebersamaan dengan anak sekaligus belajar mencintai lingkungan hidup? Cobalah dengan berkebun bersama di halaman kapan pun waktu tersedia, daripada menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi atau bermain game saja.

Selain melatih kesabaran saat merawat dan menunggu tanaman hingga tumbuh besar, berkebun juga melatih kreatifitas anak misalnya memadu padankan warna-warni bunga di taman hingga berkreasi membuat ‘papan nama’ untuk tiap-tiap tanaman yang dirawatnya. Yang penting, lakukan kegiatan bersama ini secara menyenangkan dan anggap sebagai alternatif permainan lainnya agar anak tidak bosan.

Tips berkebun bersama anak:

Mulailah kegiatan berkebun secara bertahap, misalnya dengan menanam biji-bijian yang mereka kenal terlebih dahulu serta mudah ditanam dan tumbuh, seperti biji buah semangka sisa makanan penutup semalam atau biji bunga matahari yang bisa dibeli di toko-toko tanaman tertentu.

Alternatif berkebun dalam pot bisa dikenalkan pada anak. Pot yang digunakan tidak harus pot yang dibeli di toko, tapi sebaiknya ajarkan anak untuk kreatif memanfaatkan barang-barang bekas sebagai media tanam sekaligus menjaga lingkungan, seperti kaleng bekas, gelas bekas kemasan air mineral dan sebagainya.

Kenalkan anak tentang ‘apotik hidup’ melalui kegiatan berkebun ini, seperti menanam jahe, serai, kunir dan sebagainya. Walaupun mungkin bentuk tanamannya tidak begitu menarik bagi anak, namun tanaman-tanaman ini mudah dirawat dan tumbuh subur sehingga ‘waktu panen’ pun lebih singkat untuk anak. Kenalkan juga beberapa kegunaan ‘apotik hidup’ hasil panen mereka secara sederhana, misalnya jahe bisa digunakan untuk membuat ‘wedang jahe’ yang menghangatkan, kunir bisa untuk membuat bumbu soto yang disukai keluarga dan sebagainya.

Sebaiknya tidak menggunakan pupuk kimiawi atau obat anti hama saat berkebun dengan anak, karena bisa menjadi pemicu alergi pada anak atau bahkan keracunan. Ajarilah anak trik-trik sederhana menyuburkan tanaman secara alami, misalnya dengan menggunakan sisa air cucian daging, atau menghilangkan binatang pengganggu tanaman dengan cara menaburkan garam agar tidak ada siput yang mendekat atau bubuk cabai merah untuk menghilangkan beberapa jenis hama penggangu.

Bila memungkinkan, ajak anak mengeksplorasi tanaman yang sedang dia rawat melalui bahan-bahan bacaan mengenai tanaman tersebut. Pengetahuan yang lebih mendalam tentang kegunaan suatu tanaman akan merangsang keingintahuan dan daya kreatifitasnya kelak di kemudian hari.

Selain di halaman, cobalah menanam tanaman yang sesuai untuk ruangan di dalam rumah (indoor plants), seperti Sansevieria trifasciata (Snake Plant atau tanaman ‘Lidah Mertua’), Aglaonema (Chinese Evergreen atau tanaman ‘Sri Rejeki’), Aloe Vera (Lidah Buaya),  Philodendron domesticum (tanaman ‘Kuping Gajah’) and sebagainya. Menurut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), tanaman rumah tersebut mampu menyerap polusi udara dalam rumah yang ditimbulkan oleh bahan-bahan pembersih, cat tembok dan sebagainya. Saran NASA, meletakkan sekitar 2-3 pot tanaman dengan diameter 30 sentimeter pada setiap 9-14 m² luas ruangan mampu menyegarkan udara di ruangan tersebut secara efektif.

Biarkan anak mendekorasi kebun atau pot tanamannya, misalnya mendekorasinya dengan patung-patung dinosaurus kecil atau mengecat pot tanaman sesuai warna yang disukainya.

Ajarkan disiplin pada anak untuk menyiram dan merawat tanamannya secara rutin. Hal ini sekaligus memupuk rasa tanggung jawab dan cinta lingkungan pada anak sejak dini.[Debby LG]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
KOMENTAR SERUU