Ritual pemotongan rambut gembel di Dataran Tinggi Dieng, Minggu (1/7/2012) sebagai puncak penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF ) III Tahun 2012 (Prayitno/Seruu.com)
Anak berambut gembel harus dicukur melalui upacara ruwat. Upacara ini biasanya dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan langsung kepada orang tuanya - Alif faozi

Banjarnegara, Seruu.com - Napak tilas yang dipimpin oleh para sesepuh dan pemangku adat juga tokoh masyarakat di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, mengawali prosesi cukur rambut gembel di Dieng Culture Festival (DCF ) III Tahun 2012. Acara unik itu merupakan agenda puncak DCF III, yang disaksikan ribuan wisatawan nusantara maupun manca negara, Minggu (1/7/2012).

Ada enam anak warga Kabupaten Banjarnegara (Jateng) yang dicukur rambut gembelnya. Mereka  Nadia Retnowati asal Sidareja, Kecamatan Batur, Intan asal Beji, Kecamatan Pejawaran, Nur asal Bitingan Kepakisan, Kecamatan Batur, Farhan Aska Taslimi asal Karangtengah, Kecamatan Batur, Baki Aqus Risyah, asal Karangsari Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, dan Indisa Arahwo Prodesta Raya asal Desa Karangtengah Kecamatan Batur.

Uniknya, orang tua keenam anak itu diminta memenuhi permintaan mereka, sebelum prosesi pencukuran rambut gembel dilaksanakan. Jika permintaan itu tidak dipenuhi, meskipun sudah dicukur, gembelnya  akan tumbuh lagi. Dan permintaan keenam anak itu pun dipenuhi, kemarin. Nadia meminta uang jajan Rp 100 ribu,  Intan meminta disediakan bakso,  Nur minta dibelikan sepasang anting-ating, Farhan  meminta domba, Baki minta sepeda dan telur 10 butir, dan Indisa minta 2 duz permen mild.

"Permintaan mereka memang aneh-aneh dan unik-unik," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Drs Suyatno   di sela-sela prosesi pemotongan rambut gembel itu.

Dalam prosesi itu, rombongan napak tilas menuju beberapa tempat, yaitu candi Dwarawati, komplek candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Bima, sendang Maerokotjo, tlaga Balekambang, kawah Sikidang, komplek pertapaan Mandalasari, kali Kepek dan komplek pemakaman Dieng. Rombongan kemudian menggelar doa bersama.

Setelah doa bersama, dilanjutkan dengan tradisi jamasan di Sendang Sedayu atau sendang Maerokotjo, tepatnya di utara Darmasala, komplek candi Arjuna. Untuk memasuki sendang Sedayu, anak-anak gembel berjalan dinaungi oleh Payung Robyong dibawah kain kafan panjang di sekitar sendang sambil diiringi musik Gongso.

Air untuk jamasan tersebut ditambah kembang tujuh rupa (sapta warna) dan air dari tuk Bimalukar, tuk sendang Buana (kali Bana), tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, kali Pepek dan tuk Sibido (tuk Pitu). Setelah penjamasan selesai, anak-anak rambut gembel dikawal menuju tempat pencukuran di kompleks Candi Puntadewa.

Prosesi ini dilakukan oleh para tokoh masyarakat didampingi dan dipandu langsung oleh para pemangku adat. Setelah pencukuran, acara dilanjutkan dengan doa dan tasyakuran. Semua ubo rampai prosesi dibagikan kepada para pengunjung, karena dipercaya dapat membawa berkah pada yang membawanya. Prosesi ini ditutup oleh sajian atraksi kesenian.

Tak jauh dari lokasi pencukuran, diselenggarkan Ngalap Berkah yang dipercaya oleh masyarakat bisa mendatangkan berkah bagi yang mengikutinya. Yakni berupa selamatan memperebutkan tumpeng dan makanan untuk selamatan  yang dipimpin oleh pemangku adat dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Setelah proses pencukuran selesai, prosesi ritual ini ditutup dengan pelarungan rambut gembel di Sendang Sukorini, Kali Tulis.

Penggagas acara  DCF, Alif faozi mengungkapkan, ritual cukur rambut gembel adalah ritual peninggalan leluhur yang hingga kini masih menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Menurut legenda, Gembel muncul sejak masa Kyai Kolodete dan Nini Roro Ronce (leluhur Dieng).

"Anak berambut gembel harus dicukur melalui upacara ruwat. Upacara ini biasanya dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan langsung kepada orang tuanya," ujarnya.

Disebut Gembel, lanjut Alif Faozi, karena jenis rambut sebagian kecil anak-anak Dieng itu  menyerupai gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut. Bukan karena faktor keturunan, tetapi tumbuh alami.

Secara medis, penyebab gembel masih belum diketahui secara pasti. Namun, anak-anak yang akan ditumbuhi rambut gembel biasanya disertai panas demam tinggi hingga menggigau pada waktu tidur. Gejala ini tidak bisa diobati dan setelah panas demam turun, dengan sendirinya rambut sang anak akan menjadi kusut dan menyatu.

Uniknya, agar rambut si anak tidak gembel lagi, anak gembel harus melalui proses pencukuran dengan prosesi yang baku sesuai tradisi kuno. [py]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (2 rates)
Rating
KOMENTAR SERUU