Wisman menikmati Purwaceng di Dieng (foto: Prayitno/Seruu.com)
Purwaceng bisa dibuat minuman tradisional dan sudah cukup dikenal. Kami akan mengembangkan menjadi salah satu ikon Banjarnegara - Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo

Banjarnegara, Seruu.com – Purwaceng atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Pimpinella pruatjan molk ini merupakan tanaman herbal yang tumbuh liar di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara (Jateng). Selain memiliki aroma yang khas, tanaman yang tumbuh liar pada dataran dengan ketinggian 1800 hingga 3000 meter dari permukaan laut ini dipercaya sebagai 'Viagra from Java'. Tanaman ini memang dikenal dapat meningkatkan vitalitas laki-laki. Pemkab setempat akan menjadikan tanaman Purwaceng sebagai ikon Banjarnegara.

“Purwaceng bisa dibuat minuman tradisional dan sudah cukup dikenal. Kami akan mengembangkan menjadi salah satu ikon Banjarnegara," kata Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, disla-sela acara "Dieng Culture Festival (DCF) 2012" di Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Minggu (1/7/2012).

Menurut Sutejo, ramuan yang terbuat dari tanaman purwaceng tidak kalah dengan ginseng dari Korea. Bahkan, tanaman purwaceng tidak bisa tumbuh selain di Dataran Tinggi Dieng. Oleh karenanya Pemerintah Kabupaten Banjarnegara akan membantu mempromosikan ramuan khas Dataran Tinggi Dieng.

Sejak ditemukan oleh para petani desa setempat puluhan tahun silam, tanaman itu terus di buru oleh masyarakat, bahkan jenis tanaman herbal Purwaceng ini kini dapat dikatakan tanaman langka atau mulai punah dari habitat aslinya yang tumbuh liar di hamparan pegunungan dataran tinggi Dieng. Untuk mempertahankannya, saat ini sudah banyak budidaya tanaman tersebut.

Tanaman Purwaceng pertama kali ditemukan oleh petani yang ada di dataran tinggi Dieng, dimana kebiasaan petani wilayah itu memiliki kebiasaan yang unik, yakni menggigit (mengunyah) rumput saat menunggu hujan reda di tengah ladang.

Saat itu, hujan lebat melanda wilayah itu, dan dua petani yang sedang menggarap sawah berteduh dibalik bebatuan yang ada, tanpa sengaja dia meraih 'rumput' dan melakukan kebiasaannya. Kali ini, saat mengunyah rumput yang ternyata Purwaceng itu memberikan perubahan pada si pemakan, badan terasa hangat dan merasakan ada 'getaran' dari kejantanannya. Merasa penasaran, diapun mengamati rumput tadi, sehingga membawanya untuk membuktikan apa yang telah dirasakannya.

Berawal dari situlah tanaman Purwaceng banyak dimanfaatkan warga setempat untuk menghangatkan tubuh, mengingat udara di wilayah itu memang sangat dingin. Nama Purwaceng itu sendiri diambil dari dua kata, yakni Purwa yang dalam bahasa jawa berarti 'nglantani' (Pendahulu) sedangkan Ceng berarti tegang atau ereksi.

Seiring dengan perkembangan tekhnologi, bebepara penemuan itupun ditindak lanjuti dengan melakukan penelitian. Hasilnya sungguh sangat luar biasa, akar tanaman herbal yang dikenal sebagai 'afrodisiak' (obat kuat lelaki) ini memang memiliki senyawa 'diuretik' (melancarkan air kemih). Maka tak heran jika tanaman Purwaceng terus diburu dan mejadi sasaran mepuk dari pabrik jamu. Bahkan, akibat perburuan bebas yang dilakukan warga, tanaman tersebut nyaris punah, untuk mencegah kepunahannya, maka pemerintah melalui badan POM mengeluarkan edaran kepada industri jamu untuk tidak menggunakan tanaman ini, kecuali dari sumber budidaya.

Karena itu pulalah pemerintah kebupaten Banjarnegara melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Banjarnegara membentuk tim kajian tumbuhan obat yang salah satu sasaranya adalah membidik dan mengembangkan budidaya serta mengolah tanaman Purwaceng menjadi beberapa produk. Bahkan, dari hasil penelitian lebih lanjut, tanaman Purwaceng ini juga memiliki kandungan senyawa yang dapat dijadikan sebagai obat kanker, sungguh sangat luar biasa khasiat tanaman herbal dan kekayaan alam di Banjarnegara. "Purwaceng tumbuh di dataran tinggi Dieng, kita harus dapat menjaga dan melestarikannya," harap Daud salah satu pemilik produk rumahan kopi Purwaceng di dataran tinggi Dieng.

Nilai Jual Tinggi

Selain memiliki khasiat yang sangat luar biasa, tumbuhan herbal yang lebih pas di sebut sebagia Viagra from Java ini juga memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Kondisi ini jelas dapat dimanfaatkan lebih baik dalam meningkatkan ekonomi petani, dimana harga jual tanaman Purwaceng basah mencapai Rp 100 ribu per kilogram, sementara untuk yang kering bisa mencapai Rp 1 juta per kilogram.

Dibawah Dinas kehutanan dan Perkebunan kabupaten Banjarnegara, tanaman ini terus dikembangkan dengan menggunakan teknologi perbanyakan generatif dari biji. "Budidaya ini jelas sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi agribisnis," kata petani Purwaceng lainnya.

Perkembangan dan penelitian terus dilakukan oleh para petani dibawah bimbingan tim kajian dari dinas terkait, termasuk meracik dan membuat olahan Purwaceng menjadi berbagai produk dengan tidak mengurangi khasiat dari tanaman itu. Bersama kelompok binaannya, tim kajian Dishutbun ini telah menghasilkan beberapa produk seperti, Permen Purwaceng, Sirup Purwaceng, Purwaceng Instan, Kopi dan produk lainnya.

Sementara itu, Saroji (45) Petani Purwaceng lainnya warga Desa Dieng Kulon Banjarnegara, selain dapat meningkatkan vitalitas pria, tanaman ini juga dapat meningkatkan stamina dan menghangatkan badan. "Penyajiannya gampang, kalau sudah kering, daun atau umbinya di haluskan kemudian di campur kopi atau susu, tergantung selera," katanya.

Selain itu, Saroji yang sudah puluhan tahun menanam Purwaceng juga tidak pernah merasa kesulitan, dia hanya menanam Purwaceng pada halaman rumah dan kebun di sekitar rumah. Jika sudah usia penan antara 18 bulan sampai dua tahun, dia cukup memetik dan mengeringkan secara alami. "Saat kami hanya mengolah sendiri, kalau pas banyak baru kami jual ke pengepul. Setidaknya, untuk 1 kilogram daun kering dijual sekitar Rp 800 sampai Rp 1 juta," ungkapnya. [py]

Tags:

Rating artikel: (1 rates)
Rating
Peraturan Komentar