Rambut Gimbal Dieng (Foto: Prayitno/Seruu.com)

Banjarnegara, Seruu.com - Kawasan dataran tinggi Dieng di Kecamatan Batur, Banjarnegara (Jateng), selama dua hari mendatang (30/6-1/7/2012) bakal semarak. Ribuan wisatawan yang tidak menginap maupun yang menginap di home stay maupun hotel  di kawasan pegunungan berhawa sejuk itu, akan menyaksikan Dieng Culture Festival (DCF) atau Festival Budaya Dieng ke 3. Even tahunan yang dilaksanakan mulai tahun 2010 lalu, kali ini memiliki arti tersendiri terkait Visit Jateng Year 2013. Diharapkan, Dieng  dengan segala pesona wisata dan budayanya  bisa menjadi magnet wisata Jateng.

DCF digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara.

“Awalnya bertujuan untuk  menjual paket wisata alam dan budaya di Dieng. Namun belakangan  berkembang menjadi  wahana untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi kuno yang kian terpinggirkan,” ujar Alif Faozi, ketua Kluster Pariwisata Dieng sekaligus Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Selasa (26/6/2012).

DCF, lanjut Alif Faozi,  menjadi agenda tetap tahunan yang dikelola dengan dukungan berbagai elemen, yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta. Rangkaian acara yang ditawarkan adalah pameran produk lokal, pentas seni tari budaya, ritual prosesi cukur Rambut Gimbal dan paket Wisata Alam.

Atraksi yang paling unik dan menarik serta ditunggu-tunggu masyarakat adalah prosesi pencukuran rambut gembel yang digelar hari Minggu (1/7/2012). Disebut Gembel, karena jenis rambutnya menyerupai gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut. Bukan karena faktor keturunan, tetapi tumbuh alami pada anak-anak Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara.

Ada empat anak berambut gembel yang akan diruwat. Mereka Nadia Retnowati asal Sidareja, kecamatan Batur, Intan asal Beji, Kecamatan Pejawaran,Nur asal Bitingan Kepakisan, Kecamatan Batur, dan Farhan Aska Taslimi asal Karangtengah, Kecamatan Batur.

Uniknya, sebelum diruwat , mereka minta hal yang aneh-aneh, dan harus dipenuhi oleh orang tuanya. Nadia meminta uang jajan sebagai syarat pencukuran rambut gembelnya. Sedangkan Intan meminta disediakan bakso. Lain halnya dengan Nur dan Farhan, Nur meminta sepasang giwang atau anting-anting emas dan Farhan meminta domba.

Gelaran DCF 2012 kali ini,  ujar Alif Faozi, dimeriahkan juga dengan  jalan santai dan minum purwaceng bersama-sama. Purwaceng adalah minuman khas masyarakat Dieng yang dipercaya memiliki khasiat menghangatkan badan. Dan panitia menyediakan 4.000 gelas purwaceng siap minum, seusai mengikuti jalan santai.

Start dan finish jalan santai akan dipusatkan di komplek pendopo Soeharto-Whitlam. Peserta diperkirakan berjumlah 6.000 orang dan akan dilepas pada hari Sabtu, 30 Juni 2012, pukul 08.00 WIB oleh Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, SH, M.Hum. Rute yang ditempuh jalan lingkar kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng dengan jarak kurang lebih tiga kilometer.

Sebagai bagian dari rangkaian acara pembukaan, panitia juga akan melepaskan balon udara yang menandai dimulainya Visit Jateng 2013. Balon udara ini akan dilepaskan oleh Bupati Sutedjo. Setelah itu, pengunjung akan disuguhi berbagai pagelaran seni tradisional, termasuk pagelaran wayang kulit.

Ada dua dalang dan dua lakon yang akan disuguhkan, yaitu Ki Dalang Donomudo dengan lakon “Wahyu Makutoroma”  dan Dedi Walwilwul dengan lakon “Lahirnya Wisanggeni”. Untuk menutup rangkaian acara hari itu, pengunjung dan masyarakat akan disuguhi pesta kembang api.

Alif Faozi menjelaskan, bagi pengunjung yang ingin mengenal keberagaman potensi produk Kabupaten Banjarnegara, di pelataran komplek Soeharto Whitlam terdapat 18 stand pameran yang memamerkan aneka potensi Banjarnegara . Diantaranya  olah raga petualangan arung jeram sungai Serayu, salak organik, makanan khas Dieng, batik Gumelem, kerajinan serabut kelapa, keramik Klampok, produk pertanian aeroponik, bibit kentang dan lain-lain. [py]

 

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (1 rates)
Rating
KOMENTAR SERUU