Giok jawa, salah satu batu mulia yang disukai Orang China

Purbalingga, Seruu.com - Puluhan  penggemar batu mulia, yang sebagian  besar mahasiswa Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto (Jateng), Kamis (21/6/2012) memadati Pendopo Fakultas Teknik di Kampus Blater, Purbalingga. Sedikitnya 100 batu mulia, khususnya batu mulia dari Sungai Klawing Purbalingga dipamerkan dalam ajang Gemstone Exhibition yang berlangsung sehari itu.

Batu mulia yang dipamerkan itu harganya beragam, dari harga termurah Rp 250.000,- berupa batu mulia yang diberi nama "Aurora Merah" hingga yang berharga sangat fantastis senilai Rp 2 milyar yakni berupa batu meteorit. Batu mulia termahal yang berwarna abu-abu itu itu hanya segengagaman tangan orang dewasa.

"Batu meteorit ini mahal harganya, karena termasuk barang langka. Orang Jawa menyebutnya "ndaru" yang turun ke bumi. Batu meteorit sangat jarang yang bisa sampai ke bumi masih tersisa, sebab biasanya sudah hancur di udara. Ini termasuk barang langka, karena ditemukan pada tahun 1956," ujar  dosen Progran Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsoed, Siswandi ST MT di sela-sela pameran.

Batu meteorit itu menurut pemiliknya, Tri Hexa Cahyo Eko dari Purwokerto, sudah ditawar oleh seorang penggemar batu mulia senilai Rp 2 milyar, namun tidak diberikan. "Barang itu tidak dilepas walau dengan harga tinggi, karena itu barang langka, dan merupakan barang warisan. Sangat jarang batu meteorit bisa sampai ke bumi masih tersisa segitu," ujar Siswandi sambil  menunjukkan batu meteorit yang merupakan inti bumi yang memiliki komposisi besi dan nikel itu.

Menurut Siswandi yang mengampu mata kuliah mineral dan batuan, pameran yang digelar oleh Program Studi (Prodi) Geologi Unsoed ini sebenarnya merupakan bagian dari mata kuliah yang diampunya. Di mana mendekati ujian semester yang akan digelar pekan depan, sebanyak 60 mahasiswa  prodi Geologi yang mengambil mata kuliah mineral dan batuan diminta menggelar pameran terlebih dulu. Sebelumnya,  para mahasiswa diminta hunting aneka bebatuan, lalu dipoles, dan kemudian dipamerkan. Hunting atau berburu batu mulia bisa di mana saja, termasuk di Sungai Klawing Purbalingga, Karangsambung Kebumen, dan berbagai tempat lainnya.

”Para mahasiswa kami minta memandang batu mulia dari dua sisi  yakni sisi ilmiah dan sisi artitistik. Untuk sisi ilmiah, mahasiswa kami minta meneliti dari aspek komposisi kimiawinya, karakteristik mineraloginya dan karakteristik optiknya. Sedangkan dari sisi artisitik, kami minta mengkaji batu itu dari aspek keindahan, budaya, kepercayaan, legenda dan  sebagainya," ujar Siswandi.

Siswandi mencontohkan, orang awam  mengenal batu mulia Kecubung Wulung. Barang ini diyakini sebagai aji pengasihan, agar laki-laki yang mengenakan akik Kecubung Wulung ini disayang oleh wanita.Kecubung wulung ini, lanjut Siswandi, memiliki unsur kimiawi SiO2 (silika dioksida), nama mineralnya batu kwarsa, dan nama batu mulianya amatys.

Siswandi menjelaskan, alhasil dari berburu batu mulia yang dilakukan para mahasiswanya, tersaji 100 aneka batu mulia yang cantik yang dipamerkan kemarin. Aneka batu mulia itu bisa dimanfaatkan sebagai bross, mata akik, mata sabuk, liontin, maupun benda hiasan. Dan batu-batu mulia yang dipamerkan itu pun diberi nama cukup unik. Sebutlah ada, Topeng Gendruwo, Taring Pancawarna, Burning Blood Stone, Kumbang Suci, Pancaran Sarang Lebah,Keabadian Perintis, Ruwet Kauripan,Sepenggal Telunjuk Kolor Ijo, Pelangi di Lembayung Senja, The Klawing Fish Army, Jejak Lintang Kemukus,Kesedihan Sebatang Ilalang, Sarang Tawon,dan sebagainya.

Menurut Siswandi, dari tinjauan mineral dan batuan, aneka batu mulia yang dipamerkan mahasiswanya kali ini, terbanyak batu jasper dari Sungai Klawing, seperti Giok Jawa, Rodho Krosit, Pirus, dan akik.

Sebenarnya, lanjut Siswandi, bisnis batu mulia sangat prospektif. Seperti halnya yang dilakukan mahasiswa Fisip Unsoed, Sugeng Setyono,  warga Desa Kradenan, Kecamatan Mrebet, Purbalingga yang kini dikenal sebagai kolektor dan perajin batu mulia.

"Lewat batu mulia, bisa mengentaskan pengangguran, tinggal bagaimana kita mengelolanya, lalu memasarkan  batu mulia itu ke konsumen maupun kolektor batu mulia," ujarnya.  (py)

KOMENTAR SERUU