Seruu.com - Masyarakat miskin cenderung tidak mendapat keuntungan ekonomis dari pariwisata alam (eko-wisata) dibanding kelompok masyarakat lain, demikian hasil penelitian yang dilakukan di daerah Wolong, China.

Studi yang melibatkan 220 keluarga di Wolong selama delapan tahun itu menunjukkan kelompok masyarakat yang mengenyam pendidikan, tingkat ekonomi cukup, dan mempunyai relasi dengan pegawai pemerintah setempat, lebih berpeluang diuntungkan dari keberadaan industri baru dibanding kelompok miskin.

"Kebijakan yang diterapkan (dalam eko-wisata) belum menyentuh potensi kelompok masyarakat miskin," kata Kepala Peneliti dari Center for System Integration and Sustainability pada Michigan State University, Wei Liu, seperti dilansir LiveScience.

Tim Wei Liu meneliti daerah wisata Wolong yang mengalami perkembangan pariwisata pesat dengan kawanan panda sebagai pusat utama wisata.

Pariwisata di daerah Wolong sempat terpuruk pada 2008 ketika terjadi gempa bumi Sichuan yang merusak sejumlah infrastruktur dan berdampak pada bisnis pariwisata.

Akibatnya, kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses pendidikan, kecukupan ekonomi, maupun relasi dengan pemerintah sulit untuk bangkit dari keterpurukan.

Temuan tim peneliti Wei Liu itu dipublikasikan dalam jurnal PLos ONE pekan ini.

KOMENTAR SERUU