pemanfaatan gas methane dari sampah
Diawali pertemuan pada awal tahun 2009, Qoderi mengajak warga di sekitar TPA Talangagung menyamakan persepsi, bagaimana mengolah sampah menjadi barang bermanfaat. Dan beberapa pertemuan terus dilakukan--tetap dengan hadiah tempe bagi yang hadirhingga akhirnya tercetus ide untuk memberdayakan sampah yang menggunung menjadi barang yang membawa berkah

Malang, Seruu.com - Tempe, makanan sehari-hari yang dibuat dari kedelai, ternyata mampu menyamakan persepsi Warga Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang (Jatim).

 

Ya, diawali dari kumpul-kumpul warga Desa Talangagung, Kasi Kebersihan Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kabupaten Malang, Qoderi  tak sungkan-sungkan merogoh kocek sendiri untuk membeli tempe, lalu menghadiahi warga yang hadir dalam pertemuan itu dengan tempe.

 "Saya pilih hadiah   bagi yang hadir dengan tempe, karena masyarakat sini suka sekali makan tempe. Dan itu makanan rakyat yang bernilai gizi tinggi," ujar Qoderi saat menerima rombongan studi banding Pemkab Purbalingga (Jateng) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Talangagung, Malang, pekan lalu.

Dipilihnya TPA Talangagung, karena TPA yang mewakili Kabupaten Malang itu berhasil meraih juara 1 dalam lomba pengelolaan sampah tingkat nasional pertengahan tahun 2011 lalu.

Diawali pertemuan pada  awal tahun 2009, Qoderi  mengajak warga di sekitar TPA Talangagung menyamakan persepsi, bagaimana mengolah sampah  menjadi barang bermanfaat. Dan beberapa pertemuan terus dilakukan--tetap dengan hadiah tempe bagi yang hadir—hingga akhirnya tercetus ide untuk memberdayakan sampah yang  menggunung menjadi barang yang membawa berkah.

Jelasnya, TPA Sampah Talangagung yang kini dikembangkan sebagai tempat wisata edukasi, mampu mengolah sampah menjadi gas metana (CH4) atau bio gas. Dan masyarakat sekitar gratis memanfaatkan gas metan untuk kegiatan memasak, termasuk untuk menggoreng tempe tentunya. Maka, kini di sekitar tempat itu pun berkembang  istilah "Tempe Metan", yakni tempe yang digoreng dengan gas metan .

"Masyarakat  sini sekitar 50 KK, kini tak lagi membeli LPG untuk masak. Mereka gratis mengambil gas metan dari TPA  Talangagung sini, yang sudah kami proses dan ditampung di sebuah stasiun kecil," ujar Qoderi bersemangat. Saat memberi penjelasan itu, Qoderi didampingi Kasi Perencanaan dan Pengawasan Bidang Permukiman Dinas CKTR Kabupaten Malang Renung Rubiataji serta sejumlah stafnya.

Wisata TPA

Memasuki TPA Talangagung, tumbuhan menghijau di kanan kiri jalan. Jalan aspal mulus pun  terbentang dari ujung jalan hingga ke bagian dalam TPA seluas 2 hektar itu. Jika pada umumnya di dekat TPA bertebaran lalat  dan bau busuk yang menyengat, namun tidak demikian halnya di TPA Talangagung.

Seperti yang disaksikan Seruu !!, di TPA itu mirip sebuah taman,kendati di bagian belakang TPA itu memang terdapat bank sampah, yang menyimpan sampah, baik sampah basah maupun kering dalam jumlah besar.

Selama ini, diakui Qoderi persoalan sampah memang tidak ada habisnya. Bahkan semakin hari masalahnya semakin banyak, mulai menyusutnya lahan untuk pembuangan sampah, hingga makin banyaknya produksi sampah. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kabupaten Malang melakukan terobosan, yakni mengenalkan help pengolahan TPA (tempat pembuangan akhir)  wisata dan edukasi di Talangagung, Kepanjen.

Berkat usaha keras jajaran Dinas CKTR yang dipimpin kepala Dinasnya Romdhoni ini, Kabupaten Malang kini sering menjadi jujugan kabupaten lain di Indonesia untuk study banding masalah pengelolaan sampah. Terlebih kabupaten yang sedang getol meraih Adipura seperti Purbalingga, berusaha ngangsu kawruh mengenai seluk beluk pengelolaan sampah ini, untuk diterapkan di TPA Banjaran.

Pemerintah Kabupaten Malang memiliki cara tersendiri dalam merangsang minat warga berperan aktif dalam penciptaan lingkungan bersih dan sehat.  Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya sebagai leading sector dalam  pencitraan dan penciptaan lingkungan bersih, sehat dan nyaman telah menyiapkan grand design untuk memujudkannya.

Diantaranya  menyulap tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Talangagung menjadi lokasi wisata edukasi. Pemanfaatan sampah  sebagai sumber energi alternatif bio gas. Pengolahan sampah organik menjadi  pupuk  melalui proses komposting. Dan pembuatan  pupuk organik plus yakni pencampuran kompos dengan pupuk kandang.

Dijelaskan, sampah yang diangkut truk masuk ke TPA  Talangagung, kemudian ditampung ke dalam bak besar untuk dipilah-pilah, antara sampah organik dan anorganik. Di sini, ada sejumlah pemulung dari warga Desa Talangagung yang diberdayakan oleh pengelola TPA  Talangagung.

Dari bak itu, kemudian diolah sedemikian rupa, hingga menghasilakn  gas metan, yang disalurkan melalui pipa-pipa bawah tanah dan ditampung ke suatu tempat. Dari tempat itulah gas metan bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat sekitar secara gratis.

Yang jelas, di TPA Talangagung itu,  masyarakat bisa belajar dari dekat pemanfaatan dan pengolahan  sampah secara maksimal. "Bagaimana teknologi bisa mengubah sampah yang sebelumnya dijauhi dan dipandang sebelah mata, menjadi sesuatu yang berguna," ujar Qoderi.

Tidak hanya sekedar untuk memasak saja tentunya, manfaat dari gas metan yang dihasilkan TPA Talangagung. Saat ini, pihak pengelola TPA Talangagung telah memanfaatkan gas metan itu, untuk berbagai inovasi. Seperti,untuk menggerakkan pompa air, menghasilkan listrik 5000 watt dan 22,5 KVA,  kompor “nonaku” BBG metan, panggang fill BBG metan, oven kue BBG metan, dan petromak BBG metan. [py]

KOMENTAR SERUU