Ilustrasi (Istimewa)

SLEMAN, Seruu.com – Paguyuban macapatan “Wijaya Kusuma” asal Kota Mojokerto Jawa Timur belajar tentang macapatan ke Kabupaten Sleman, Selasa 10 Januari 2012 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Rombongan yang terdiri atas 13 (tigabelas) orang tersebut dipimpin oleh Hermawan. Lebih menarik lagi 2 (dua) orang diantaranya merupakan pecinta macapatan yang masih berusia belia, yakni masih merupakan siswa sekolah menengah pertama.
 

Demikian dinyatakan Kepala Seksi Sejarah, Nilai dan Tradisi Budaya Disbudpar Sleman Anas Mubakkir, SS di kantornya Jl. KRT Pringgodiningrat No.13 Beran Tridadi Sleman, Rabu 11 Januari 2012. Anas menambahkan bahwa dalam kesempatan tersebut dari paguyuban “Wijaya Kusuma” sempat membawakan macapatan versi Jawa Timuran, disamping tentunya penampilan macapatan dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, M.Si, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Untoro Budiharjo serta para kepala bidang dilingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.

Mereka ingin belajar macapatan gaya Yogyakarta untuk menambah referensi tentang kegiatan macapatan yang mereka lakukan. Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan sarasehan tentang “Sejarah Penulissan Serat wulangreh karya Pakubuwono IV” dengan narasumber Prof Dr Suwarno, M.Pd.

Secara terpisah Kepala Bidang Peninggalan Budaya, Nilai dan Tradisi (PBNT) Aji  Wulantara, SH mengatakan bahwa kunjungan paguyuban macapatan “Wijaya Kusuma” dari Kota Mojokerto Jawa Timur merupakan suatu kebanggaan. Mengingat salah satu kegiatan budaya di Kabupaten Sleman mendapat apresiasi dari masyarakat luar daerah. Ini hendaknya menjadi tantangan bagi masyarakat Sleman sendiri untuk terus meningkatkan apresiasi dan lebih mendalami terhadap nilai tradisi lokal.

Dikatakan kegiatan macapan yang diselenggarakan secara rutin sebulan sekali tiap malam Rabu Wage di Rumah Dinas Bupati Sleman merupakan salah satu strategi  pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestarikan kegiatan-kegiatan budaya. Ini merupakan apresiasi dan kepedulian yang luar biasa dari pucuk pimpinan dalam memberikan fasilitasi terhadap pengembangan budaya.

Upaya tersebut sudah barang tentu diharapkan untuk memperkuat strategi pengembangan Kecamatan sebagai pusat pertumbuhan dan pelestarian budaya. Dalam hal ini bukan berarti pihak kabupaten lantas lepas tangan begitu saja, namun justru pengembangan yang berawal dari level masyarakat bawah tentu akan lebih memperkuat upaya menjaga eksistensi kebudayaan di level yang lebih tinggi.[was]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
KOMENTAR SERUU